Matahari belum menampakkan sinarnya tapi aku sudah sibuk didapur menyiapkan sarapan dan untuk bekal ku makan siang. Hari ini hari pertama aku menjalani training, sudah 4 hari aku bolak balik pelaihari – Banjarmasin mencari pekerjaan, hari pertama mengirim surat lamaran. Hari kedua tes tertulis dan wawancara, hari ketiga pengumuman yang diterima dan penjelasan tentang pekerjaan apa yang akan kami lakukan. Sebenarnya sempat kaget ketika mendapat penjelasan dari manajer PT. Karamput Wara (heee) kemarin, bagaimana tidak kaget di Koran pengumuman lowongan pekerjaan tertera yang di cari tenaga administrasi, tenaga gudang, sekretaris dengan pendidikan minimal masing – masing jabatan adalah diploma 3 tapi kenyataannya kami mendapat penjelasan bahwa pekerjaan kami adalah sebagai tenaga pemasaran atau biasa disebut sales. Sebenarnya sudah banyak yang mengundurkan diri ketika tahu bahwa pekerjaan yang ditawarkan adalah sales, Wooow D III jadi sales, kalau aku tidak serta merta mengundurkan diri biarlah aku mencoba dulu siapa tahu aku mampu lagian aku sudah kepepet, aku sudah habis banyak selama 3 hari bolak balik untuk transport, belum lagi pengorbananku harus meninggalkan anakku akhsay yang masih berusia 6 bulan tanpa ASI selama 3 hari ini, masa aku menyerah ditengah jalan.

“ayang, uang untuk bayar taksi masih ada?” Tanya ayangku

“masih  ada Rp 50.000, cukuplah untuk PP hari ini” (biaya satu kali perjalanan dari pelaihari ke pal 6 Bjm Rp 25.000)

“itu hanya cukup untuk taksi, bagaimana untuk jajan mu ayang. Maaf uangku sudah habis”

“tidak apa – apa, aku sudah menyiapkan bekal untuk makan siang”

Tersisa 30 menit lagi pukul 06:00 artinya aku harus berangkat karena pukul 08:00 sudah harus tiba di kantor PT. Karamput Wara yang berdomisili di pal 6 Bjm. Tiba – tiba akhsayku menangis, sepertinya bayi montok itu ingin menyusu, ku hampiri dan kususui akhsay, jari jemari kecilnya menarik narik bajuku lalu ku genggam jari jemari kecilnya, kutatap matanya dengan lahapnya dia menyusu, satu persatu bulir airmataku berjatuhan. Kasihan kamu anakku sayang, hari ini lagi – lagi mama harus meninggalkanmu tanpa ASI , mama bahkan tidak mampu membelikanmu susu formula (dulu aku belum mendapatkan pengetahuan bahwa ASI bisa disimpan)

“Tidak usah memaksakan diri kalau memang tidak sanggup” ujar ayangku

“sanggup ayang, lagian belum dicoba masa menyerah duluan”

Akhirnya pukul 06:00 tiba, aku pun tergesa gesa berangkat, beruntung akhsayku tertidur setelah perutnya kenyang

Didalam taksi pikiranku menerawang sebenarnya ada banyak alasan mengapa aku memaksakan diri mencari pekerjaan dan meninggalkan anakku dirumah, meski alasannya tidak bisa dibenarkan karena dari dalam hati aku menyadari bahwa yang terbaik adalah aku tetap dirumah mengurus anakku tapi mau bagaimana lagi dari hari ke hari aku makin terpojok, aku seperti didorong ke tepi jurang setiap kali aku mendengar keluhan mama tentang keadaanku. Sia – sia disekolahkan tinggi tinggi akhirnya dirumah saja, ijazahnya tidak berguna bahkan tidak bisa membantu perekonomian orangtua. Aku hanya diam dan diam mendengar keluhan mamaku tiap kali mama berkunjung ke rumah, hanya seputar itu lagi itu lagi, jenuh dan bosan mendengarnya, ingin rasanya beradu argumen tapi ku urungkan lebih baik diam karena kalau aku beradu mulut maka akan semakin membakar emosi mamaku, cuman didalam hati aku nyeletuk, mama mama kalau niatnya membesarkan dan menyekolahkan anak perempuan untuk mengurus dimasa tua dan untuk membantu perekonomian keluarga dimasa tua maka lebih baik berkebun sawit atau karet saja, puluhan hektar kalau perlu ratusan hektar kelak ketika bisa dipanen maka mama bisa menikmati hasilnya layaknya dana pensiun, tanpa harus begadang ketika sawit dan karetnya sakit, tanpa harus sibuk menyiapkan sarapan setiap pagi untuk sawit dan karetnya, tanpa harus khawatir sawit dan karetnya salah pergaulan, memang benar kewajiban seorang anak berbuat baik dan berbhakti pada orangtua tapi sebenarnya  mengurus orangtua , membantu dimasa tua itu hanyalah tujuan sekunder yang bisa didapat orangtua dari membesarkan anak perempuan, tahukah apa tujuan primer yang didapatkan dari membesarkan dan mendidik anak perempuan , yaitu “sebagai penghalang orangtua dari api neraka” jadi sangat disayangkan jika hanya tujuan sekunder yang dikejar mengabaikan tujuan primernya. Apabila orangtua membesarkan anak perempuan kemudian mereka mendidiknya menjadi anak yang shalehah, maka beruntunglah orangtua tersebut karena kelak itu yang akan menjadi penghalang api neraka bagi mereka, (berlaku sebaliknya). Pikiranku terus menerawang, karena tak dapat dipungkiri akupun mengkhawatirkan abah yang kini makin tua, tubuhnya makin ringkih. Tanpa diminta atau disuruh pun aku ingin sekali bisa membahagiakan mereka, andai aku mampu akan kujadikan abah raja dan mama ratu, tapi apa dayaku aku belum mampu

Penyebab lain yang membuatku makin kuat ingin mencari pekerjaan adalah karena aku sudah tidak tahan mendengar sindiran dan ucapan sinis tetangga sebelah rumahku “ masa sarjana tidak bekerja, masa sarjana pergi ke sawah, rugi sarjana hanya jadi ibu rumah tangga, bla bla bla bla” yang jelas sangat membuat panas telinga. Apa salahnya jika ibu rumah tangga itu sarjana, bukankah seorang ibu adalah madrasah awal bagi anak – anaknya, jika sebuah institusi pendidikan menerapkan standard pendidikan minimal pengajarnya adalah sarjana, mengapa tidak untuk anak kita, jangankan aku yang hanya Diploma 3, kalau perlu aku ingin bisa S3 untuk menjadi tenaga pendidik bagi anak – anakku. Ho ho jangan remehkan profesi ibu rumah tangga, ini adalah profesi dimana tidak ada yang sanggup membayar gajinya, kalau dokter mungkin bisa digaji 20 juta, guru 10 juta, perawat 6 juta..kalau ibu rumah tangga mau dibayar berapa?20 juta, masih terlalu murah untuk setiap tetes peluhnya, untuk setiap bulir airmatanya, untuk setiap curahan cinta kasih sayangnya karena itulah surga adalah balasan yang sangat pantas untuknya. Profesi ibu rumah tangga adalah medan jihad dan ladang pahala bagi wanita. Sayangnya masih banyak yang kecewa bila seorang sarjana hanya menjadi ibu rumah tangga padahal semakin tinggi pendidikan seorang ibu ditambah pemahaman agama yang mumpuni tentu akan lebih mudah baginya mendidik anak – anaknya. Lamunanku terhenti ketika kami telah tiba di pal 6, aku beranjak dari tempat dudukku dan mencari tempat bekalku. Astaghfirullah, bekalku tertinggal dirumah karena tadi tergesa gesa berangkatnya alamat lapar ini seharian.

Setibanya di kantor PT. Karamput Wara, kami dikumpulkan kemudian dibagi perkelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 orang baru dan 1 pegawai senior yang akan menjadi trainer kami namanya mas Apusi. Kami pun dibawa ke Landasan Ulin dengan naik angkot tiba disana kami kemudian berjalan memasuki sebuah jalan kecil dan kemudian mas Apusi  berhenti didepan rumah warna pink dan menyapa seorang ibu yang sedang duduk santai di teras rumahnya.

“Assalamualaikum, selamat pagi Bu. Bisa minta waktunya sebentar”

“ada apa ya?” ibu itu tampak bingung

“Perkenalkan Bu, Saya Apusi dan ini teman saya, aluh, allay dan anang. Kami dari PT. Karamput Wara,   ingin memperkenalkan produk kami kepada ibu yang namanya CINIX (haha) “mas Apusi menunjukkan barang jualan kami

“maaf mas saya sudah punya blender” tolak ibu itu

“produk kami ini beda bu dengan blender yang ibu sudah punya, produk kami ini tidak hanya berfungsi sebagai blender tapi juga sebagai mixer, chiller dan lain lain bu, dengan alat ini ibu bisa bikin jus, bikin kue, giling daging, giling kopi bahkan bisa untuk memerah santan, bayangkan ibu sejuta manfaat hanya dari 1 produk ini, (Mas Apusi menunjukkan keahlian bagaimana meyakinkan calon pembeli tanpa menyerah), dan ibu tahu kelebihan produk kami adalah harganya yang sangat terjangkau dengan fungsi yang sangat banyak. Produk kualitas terbaik ini harganya Cuma Rp 999.000,-“ (Cuma??????  hee)

“Maaf mas, tidak ada uangnya”

“Oh iya kalau boleh tahu ibu dirumah pakai minyak goreng apa ya”

“Bim*li”

“wah selamat Bu, selamat”

Lalu mas Apusi mengajak ibu itu berjabat tangan dan tampak si ibu makin kebingungan, Mas Apusi kemudian menyuruh kami juga berjabat tangan mengucapkan selamat kepada ibu itu dan kami yang masih terbingung bingung pun melakukannya, satu satunya orang yang tidak nampak bingung hanya Mas Apusi (ha ha ha)

“Ibu tahu kenapa saya memberi selamat kepada ibu, Jadi Bu produk kami ini disponsori oleh minyak goreng Bim*li, nah karena ibu adalah memakai Bim*li maka ibu beruntung dan berhak memiliki CINIX ini secara gratis ibu,, sekali lagi gratis ibu”

“haahh, gratis” ibu itu terkejut, ( aku pun tidak kalah terkejut, gratis ???mau dong)

“iya bu gratis,, (mas Apusi menebarkan senyum termanisnya,,, tapi sepertinya manisnya tidak pakai gula tapi pakai pemanis karena ada pahit pahitnya, heee), kalau boleh tahu mimpi apa yaa ibu tadi malam bisa seberuntung ini”

“ngga ada mimpi apa-apa tuh mas,, ini beneran gratis buat saya “ ibunya masih bingung dan masih tidak percaya (sama bu, aku juga)

“Produk seharga Rp. 999.000,- gratis buat ibu, ibu bisa memilikinya cukup dengan membayar biaya administrasinya saja, cuma Rp 99.000,- (cuma lagi???)”

(Ohh syarat ketentuan berlaku ternyata. Gumamku)

“katanya gratis,, kok mesti bayar lagi mas”

“bukan bayar bu, itu cuma biaya administrasi”

“tapi banyak itu biaya administrasinya, kalau cuma 10rb, 20 ribu aku mau tapi kalau Rp. 99.000,- ngga ah hampir 100 rb itu, harga blender diluaran juga seharga itu”

Mendengar gerutu ibu itu mas Apusi bukannya menyerah malah tambah bersemangat menyakinkan si ibu dengan jurus sejuta ngeyel (hahaha)

“yakin bu mau dilewatkan saja kesempatan emas ini, tadi bu pemilik rumah warna kuning didepan itu beliau mau lho bumembayar biaya administrasinya asal bisa mendapatkan CINIX ini secara gratis, tapi ngga bisa karena beliau tidak memakai minyak bim*li tapi merk lain kalau tidak salah tadi merk san*a” (dalam hati aku mikir rumah yang mana? ibu yang mana?perasaan tadi ngga ada kesitu)

“maaf mas saya tetap ngga mau membayar biaya administrasinya, masnya sudah banyak menyita waktu saya, saya mau masak dulu buat makan siang”

Hahaha akhirnya kami diusir

Begitu seterusnya tiap rumah dihampiri, kadang disambut ramah, kadang diusir, kadang diberi senyuman, kadang ditertawakan, kadang didengarkan, kadang diabaikan. Benar – benar melelahkan dan memalukan. Sambil menahan malu dan terus menyusuri jalan dalam hati aku menguatkan diriku ‘demi akhsay, untuk akhsay” itulah kalimat yang terus kuucapkan tak terhitung jumlahnya “demi akhsay, untuk akhsay” “demi akhsay, untuk akhsay”

Akhsay menjadi salah satu pemicu semangatku untuk mencari pekerjaan, karena banyak hal yang terjadi pada akhsay yang membuatku khawatir dengan keadaan ekonomi kami, beberapa kali aku harus tunduk pada rasa ketidakberdayaan dan harus menahan amarahku karena tak mampu berbuat apa-apa, contohnya akhsay sejak lahir sering sakit –sakitan dan aku tidak tahu dia sakit apa karena belum pernah kubawa ke puskesmas atau Rumah Sakit  bukan tak mau tapi tak mampu. Miris bila melihatnya tergolek lemah tak berdaya ketika sakit, dia hanya menangis, tidak mau menyusu, tidak bisa tidur, karena sepertinya sulit bernafas, dadanya seperti berlubang dan berbunyi ngik ngik ( sekarang aku tahu dia sakit apa, ketika aku ke puskesmas ada gambar bayi dengan keadaan dada berlubang seperti akhsay ketika bayi disana tertulis nama penyakitnya “pneumonia”. dan rupanya akhsayku mengidap asthma). Pernah juga ketika akhsay berusia 3 bulan dia sakit bisulan, sampai umurnya 6 bulan bisulnya tidak sembuh sembuh, kering 1 lalu tumbuh lagi ditempat lain begitu seterusnya, sudah kubawa ke bidan desa dan diberi obat minum dan obat salep tapi tak membuahkan hasil, akhirnya bidan desa menyarankan agar akhsay dibawa ke dokter anak, mana bisa untuk makan saja susah apalagi untuk ke dokter anak, akhsay harus menahan sakitnya bisul berbulan bulan hingga suatu hari datang kerabat kami kerumah dan memberi tips bahwa bisul bisa disembuhkan dengan dioles cabe rawit, aku tak percaya dengan ucapan kerabatku itu lalu tanpa kuduga ternyata ayangku tega mengoles beberapa cabe rawit ke bisul akhsay, akhsay menangis dengan kerasnya mungkin karena kepanasan dan kesakitan, bayangkan kulit yang tidak akit saja kalau terkena cabe rawit akan terasa panas, apalagi ini bisul bernanah. Aku marah pada ayangku, ku raih akhsay dari ayangku,, kupeluk dia seraya menangis sejadi jadinya. Kamipun menangis berdua “ ayang tega ,, ayang jahat. Sudah tidak mampu membawanya ke dokter malah mampu menyakitinya” untuk beberapa lama aku sangat marah pada ayangku, aku hanya berdiam diri bersama akhsay, ingin rasanya aku membawa akhsay pergi jauh sejauh jauhnya. Tapi kemarahanku pada ayang mereda, karena bisul yang kemarin dioles dengan cabe rawit malah mengering dan sembuh, bahkan tidak ada tumbuh lagi ditempat lain, bisul akhsay sembuh total ternyata Allah sembuhkan akhsay dengan perantara cabe rawit.

Akhsay adalah kekuatanku , alasanku bertahan ditengah himpitan keadaan, akhsay permata hatiku yang berharga, dia yang pertama hadir lahir dari rahimku. Hamil akhsay dengan keadaan yang masih belum punya apa – apa benar benar memiliki kenangan yang tak terlupakan, tidak bisa ngidam karena tidak akan mampu membelinya, bisa makan saja syukur, bahkan semasa hamil aku tidak pernah memeriksakan kehamilanku ke petugas kesehatanbidan ataupun dokter, tidak pernah USG jadi tidak tahu apakah posisinya bagus, ataukah sungsang ataukah melintang. Aku benar benar berada dalam posisi pasrah kepada Allah, hanya mengharapkan pertolongan Allah, tidak pernah berani membayangkan bagaimana jika harus melahirkan dengan operasi Caesar untuk melahirkan secara normal saja tidak ada biayanya dan rencana Allah memang selalu yang terbaik untuk hambaNya, aku benar benar diberi kemudahan ketika melahirkan akhsay, pukul 13:00 perutku terasa agak mules lalu berangkat kerumah bidan untuk diperiksa, pukul 13:30 sudah sampai dirumah bidan, tiba disana bidannya kaget katanya sudah akhsay sudah siap lahir, 10 menit kemudian 13:40 hanya 2 kali mengejan bayi montok itu lahir dengan BB 3,5 kg dan Pb 55 cm,

“hai Allay, lagi mikirin apa? Dari tadi kamu tidak pernah fokus “ Mas Apusi menegurku membuyarkan lamunanku, pikiran ku memang sedang melayang laying tak tentu arah , memikirkan akhsay dirumah yang mungkin sedang kelaparan dan kehausan ingin menyusu, memikirkan perutku yang lapar dan bekalku yang ketinggalan, dan banyak lagi hal hal lainnya yang menari nari dikepalaku

“oh iya iya Mas Apusi maaf”

“Fokus lay, biar nanti kamu bisa dilepas sendirian dilapangan kalau sudah menguasai materi teknik penjualan”

Hemmmmm???? Materi apaan?teknik apaan? Yang kutangkap bahwa harga CINIX itu memang Rp. 99.000,- jadi bukannya gratis ketika ditanya pakai merk minyak goreng apa, ketika ibu A menjawab pakai minyak goreng Bim*li nanti dikatakan bahwa sebenarnya ibu B ingin mendapatkan kesempatan emas ini tapi tidak bisa karena pakai merk san*a, ketika ada ibu C pakai san*a nanti dikatakan bahwa sebenarnya ibu A ingin mendapatkan kesempatan emas ini tapi tidak bisa karena pakai merk bim*li, begitu seterusnya. Tidak terhitung sudah berapa kali dusta yang dibuat mas Apusi, ini mah namanya teknik meyakinkan pembeli dengan ngeyel dan sejuta dusta. Jadi ragu dengan pekerjaan ini, apa tidak bisa dengan jujur saja teknik penjualannya.

“kita istirahat diwarung depan, kita bisa makan siang disana”

Kami berhenti disebuah warung, acil warung tersenyum kepada kami dan mengamati kami dengan seksama, dalam hatinya mungkin siapa ini orang-orang dengan seragam sama atasan putih, bawahan hitam, pakai dasi lagi(heee),, karena uangku hanya cukup untuk ongkos pulang, aku tidak ikut makan siang diwarung. Kebetulan didepan warung ada mushalla aku memilih shalat zuhur dan istirahat disana, setibanya di mushalla ketika ingin berwudhu dan melepas sepatu aku baru sadar ternyata sepatuku robek, karena tidak pakai kaos kaki jari kelingking kakiku keluar dari robekan sepatu. Ya Allah, saking kusutnya pikiran sampai tak menyadari sepatu robek. Serasa mau nangis, mau ketawa, auk ah.

Selesai shalat zuhur aku merebahkan diri, niatnya sih sebentar saja sekedar meluruskan pinggang dan kaki yang terasa pegal tapi kenyataannya aku malah ketiduran mungkin ada 20 menitan aku terlelap seperti orang pingsan, lalu aku dikejutkan oleh suara panggilan “allay bangun, cepat kita pergi dari sini” aluh membangunkan ku. masih setengah sadar, aku beranjak pergi dari mushalla kulihat diluar Mas Apusi dan lain lain sudah menunggu dengan wajah yang cemas dan anehnya sekarang sudah ada kelompok mbak lier dan kawan – kawan,

“Ayoo cepat,,kita pergi dari sini” Mbak lier yang juga pegawai senior seperti mas Apusi terlihat panic

Kami berdelapan pun meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari yang aku tidak tahu apa penyebabnya, setelah sangat jauh kami berjalan yang seperti dikejar setan tiba – tiba “auuu, aduhh sakit” rupanya kaki Mba lier terkilir, mba lier meringis kesakitan.

Karena mba lier tak sanggup lagi berjalan, kami pun memutuskan beristirahat duduk dipinggir jalan sepi sepanjang jalan hanya rerumputan berdebu dan mobil  yang lalu lalang dan tidak kuketahui ada dimana kami ini. Aku mendekati aluh perlahan seraya ingin bertanya ada apakah gerangan

“sebenarnya ada apa luh?” Tanyaku setengah berbisik

Tadi mba lier dan kawan kawan dikejar bapak bapak yang sedang marah besar, karena kemarin beliau baru membeli CINIX dari mba lier, begitu dipakai CINIXnya langsung terbakar, beliau marah dan minta uangnya kembali. Mba lier nya ngga mau mengembalikan uang beliau akhirnya terjadi adu mulut, bapak itu tidak terima dan mengambil senjata tajam kerumahnya, makanya mba lier dan kawan kawan lari ketakutan

“Astaghfirullah, bukan kelompok kita yang menjual CINIX pada bapak itu”

Setelah mba lier sudah bisa berjalan kamipun meneruskan perjalanan, terasa sangat jauh entah ada dimana, kami tidak mungkin kembali pulang melewati jalan ketika kami masuk tadi di Landasan Ulin karena takut bapak tadi masih mengejar. Dan “kletak” hak sepatu kiri ku patah, lengkap sudah penderitaan ku. Lapar, belum makan, sepatu kanan sobek, sepatu kiri patah hak nya. Teringat iklan permen mentos yang patah salah satu hak sepatunya lalu dipatahkan keduanya, aku pun berusaha menirunya.aku berusaha mematahkan hak sepatu kanan dengan menghempaskan sepatuku kejalan tapi sulit, hak nya tidak patah.yaa sudah daripada repot kulempar dan kubuang sepatuku di semak belukar. Biar dah berdarah berdarah dah sekalian jalan tanpa sepatu, aku marah, kesal, sedih, campur aduk , mau nangis, mau teriak. Lagi lagi aku berusaha menguatkan hatiku “ demi akhsay, untuk akhsay, demi akhsay, untuk akhsay, demi akhsay, untuk akhsay” lalu tanpa kuduga aluh melepas sepatunya dan melepas kaos kakinya “pakai kaos kakiku ini lay, setidaknya bisa mengurangi rasa sakit karena tebal, coba kamu lebih sabar berusaha mematahkan hak satunya bukannya malah dilempar” rasa marah dihati mengalahkan rasa sakit dikaki. Aluh menggandeng tanganku sepertinya dia mengerti perasaanku, seraya mengajakku bernyanyi

 “ hari hari terus berlalu tiada pernah berhenti

Seribu rintang jalan berliku, Bukanlah suatu penghalang

Hadapilah segala tantangan, mohon petunjuk Yang Kuasa……………………………………………………….

Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan , mulia adanya………”

 Akhirnya setelah sekian lama berjalan kami tiba di persimpangan jalan raya besar, diseberang sana ada pom bensin. Ahhaa aku ingat ini jalan A.yani jurusan Pelaihari, dari tempat aku berdiri ini kalau belok kiri itu  arah Pelaihari, belok kanan arah Banjarmasin. Aku kegirangan, mengetahui tempatku berada. Aku bisa pulang, aku rindu akhsay, serasa ingin terbang agar bisa segera sampai dirumah, payuda**ku sudah terasa sangat sakit karena seharian  tidak disusukan ke akhsay. Aku pamitan kepada teman teman yang lain, aku berhenti dari pekerjaan sales CINIX,  cukup sehari ini saja , aku tidak ingin mencari rezeki dengan cara harus berbohong untuk meyakinkan pembeli, karena aku ingin akhsayku jadi orang baik, maka yang dimakannya harus yang baik, yang dipakainya harus yang baik, yang dilihatnya harus yang baik. Masih ada banyak cara untuk mencari rezeki tapi tidak dengan segala cara.

Akhsay permata hati mama yang berharga, demi akhsay, untuk akhsay mama akan selalu kuat menghadapi rintangan dan cobaan

Akhsay kebanggaan mama, asset dunia dan akhirat mama, demi akhsay, untuk akhsay, mama akan berusaha selalu dijalan yang benar agar kau jadi orang benar

Lika-liku lakiku dan Aku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.