Pelambuan, 22 januari 2019

Menyusuri gang kecil ini mataku menoleh kekanan ke kiri mencoba mengingat kembali kenangan yang pernah terjadi di sini, entah berapa lama aku tak pernah lagi berkunjung kesini padahal di pelambuan inilah aku tumbuh dan besar, langkahku terhenti diujung gang kecil ini, itulah rumah kakak sepupuku aku memanggilnya kakak niati.

“assalamualaikum”ku ucapkan salam

“wa’alaykumussalam ( dari dalam terdengar salamku dijawab), masuk La,,akhirnya sampai juga kamu kesini. Ayoo masuk, aku lagi masak didapur, aku masak osengan mandai, osengan sulur keladi pedas, oseng pare dan udang, sayur keladi, nangka plus kepala ikan asin, peda masak kuning, pakasam papuyu, semuanya menu kesukaan kamu La”

“alhamdulillah, sejuta love buat kakak. Tahu aja cara memanjakan lidahku. Udah kangen banget masakan kakak nih”

Tiba –tiba terdengar seseorang memanggil kakakku

“mama dina, mama dina (panggilan para tetangga untuk kakakku, karena anak pertama kakakku bernama dina”

“oh sepertinya ada yang mau belanja diwarung”kata kakakku

“biar aku aja yang melayani pembelinya, kakak masak aja buatku didapur, heee”

Akupun keluar menuju warung kelontongan kakakku

Dan kudapati seorang perempuan sedang menggendong anak kecil didepan warung kakakku,

“mau beli apa?”

“mie instant rasa bakso 2 bungkus”

“kak, mie bakso berapa harganya?”(aku setengah berteriak menanyakan harga mie bakso pada kakakku)

“Rp 2.500”sahut kakakku

“ini mie nya 2, Rp 5.000”

Perempuan itu lalu menyodorkan uangnya padaku. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan perempuan itu tapi entah kenapa tiba tiba setelah kuamati dengan seksama ,aku jadi teringat dengan seseorang. Apa mungkin dia Mona tetanggaku dulu, teman dimasa kecilku.sebenarnya tidak bisa disebut teman juga sih karena semasa kecil aku selalu di bully olehnya . Sekali lagi kutatap dia dengan seksama, pakaiannya lusuh. Celana kolot diatas lutut dengan atasan kaos gambar partai, badannya kurus, kulitnya keriput dan kusam pun dengan keadaan anak yang digendongnya, kurus dan pakaian anaknya juga sangat lusuh “ah,,tidak mungkin dia Mona (gumamku dalam hati)”

Kemudian perempuan itu berlalu pergi, aku pun bergegas ke dapur

“kakak,tadi perempuan yang belanja itu mirip dengan Mona atau dia memang Mona?”

“Iya La, itu memang Mona”

“tapi kenapa dia lusuh begitu, bukankah dulu dia cukup berada”

“Dulu ayahnya punya jabatan penting di perusahaan kayu lapis dengan  gaji yang lumayan besar, lalu semua pabrik kayu lapis gulung tikar hingga akhirnya ekonomi keluarga Mona terpuruk , orangtuanya kabur entah kemana karena terlilit hutang, rumah mereka pun dijual dan Mona yang masih duduk di SMA harus tinggal bersama neneknya dan malangnya lagi Mona malah memilih putus sekolah dan menjadi wanita penghibur, semua warga gang ini tahu pekerjaannya  tiap hari dia pergi tengah malam pulang pagi. Lalu Mona terserang penyakit, entahlah sakit apa katanya sakit kelamin, neneknya harus menjual rumahnya untuk merawat Mona yang sakit cukup lama. Alhamdulillah Mona bisa sembuh. Kini nenek Mona sudah meninggal , dia sebatang kara.beruntung ada laki laki baik yang mau menikahinya, meski pekerjaannya hanya penarik becak tapi dia bertanggungjawab terhadap keluarganya. Setiap siang suaminya pulang dan Mona pun membeli mie instan untuk makan mereka, setiap hari mereka hanya mampu membeli beras dan mie instant hanya kadang – kadang saja mereka mampu membeli telur sebagai lauk. Kadang kalau suaminya tidak pulang siang berarti suaminya belum dapat uang dan itu artinya Mona tidak bisa membeli instant”

“hemmmm”(aku menghela nafas panjang tak dapat bersuara mendengar cerita kakakku tentang Mona)

Tidak ada yang tahu tentang bagaimana nasib seseorang di masa depan, mungkin ini yang dimaksud roda kehidupan dunia berputar

“kenapa La, kamu masih dendam dengan Mona ya? Kakak dulu juga begitu, kakak sakit hati dengan dia, emosi kakak terbakar bila mengingat bagaimana dulu dia memperolok olok kamu, setiap hari kamu dihina dan di bully, kakak juga ingat dia orang pertama yang memanggilmu dengan sebutan “Negro”akhirnya semua orang di gang ini memanggilmu negro. Kakak juga belum lupa dengan kakimu yang berdarah karena dihajar mama setelah mama Mona datang kerumah memaki mama akibat perbuatan kamu yang mengotori gaun putih mona dengan Oli”

Mona selalu menghina baju yang kupakai, baju obralan lah, apalah. Makanya aku berusaha keras menabung supaya bisa membeli baju di Ramayana, akhirnya mama bisa membelikan gaun untukku warna hijau, untuk ifit adikku warna orange.aku bahkan menyimpan struk pembeliannya sebagai bukti bahwa gaunku bukan obralan, tapi lagi lagi Mona selalu dapat cara untuk menjatuhkanku dan menghinaku dan anehnya aku selalu percaya ucapannya ketika Mona bilang bahwa gaunku itu palsu, gaun yang asli hanya warna merah dan putih. Dan gaun Mona putih , adiknya merah. Akibat ulah Mona lagi lagi aku ditertawakan anak – anak lain dan diteriaki dengan ucapan “gaunnya palsu, gaunnya palsu”.anak – anak lain memang suka ikut ikutan Mona menghinaku atas perintah Mona dan mereka mau melakukannya karena Mona memang suka memberi mereka uang ataupun makanan, layaknya Bos lah.

Suatu ketika kulihat gaun putih  Mona lagi ada di jemuran tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke bengkel paman imul meminta oli bekas, dan setelah kuamati sekitar, kurasa cukup aman karena tidak ada seorang pun disana lalu ku tumpahkan oli tersebut ke gaun putih Mona. Sebenarnya tidak ada saksi mata atas kejadian itu tapi entah kenapa mama Mona bisa menebak kalau akulah pelakunya,,heee mungkin karena aku yang paling kuat alasannya untuk dijadikan tersangka dan diantara anak – anak lain memang aku yang sering di cap anak nakal oleh Mona sekeluarga padahal sebenarnya aku tidak nakal tapi N akal (baca: en akal) artinya akalnya tak terhingga. Meski aku harus menanggung akibat perbuatanku dengan dipukul mama tapi aku puas sudah berhasil merusak gaun putih Mona. (ini bahayanya berurusan dengan orang miskin yang sakit hati)

“kenapa senyum senyum sendiri La ? tapi kakak heran kenapa Cuma kamu yang selalu dibully oleh mona, ifit tidak”

“ya iya lah, ifit kan diam kalau dihina, diam kalau dibully. Kalau aku melawan, Coba kakak pikir, tidak enak banget jadi aku, sudah miskin, jelek, hitam, gigi boneng, terus dihina lagi,”

“ha ha ha,, kakak masih ingat ketika kamu menggerutu protes, kenapa kamu miskin dan jelek, kamu bilang maria Mercedes (telenovela) miskin tapi dia cantik, jadi enak bisa ada lelaki kaya yang akan melamar atau kalau memang kamu harus jelek setidaknya jadikan kamu kaya, …”

“itu dulu kak,, sekarang aku tidak protes lagi.aku malah bersyukur dan merasa beruntung dulu tidak cantik dan juga miskin, dengan begitu aku bisa tumbuh jadi pribadi yang kuat”

Sebenarnya selain tentang gaun, ada kenangan yang cukup menyakitkan yang telah dilakukan Mona padaku. Aku ingat hari itu ketika kami sedang bermain lompat tali tiba-tiba Mona datang dengan membawa  banyak permen, dia lalu membagikan permen itu satu persatu kepada teman – temanku tapi tidak denganku, dengan polosnya aku bertanya “ apakah aku tidak diberi permen itu juga”

“tidak, ini permen mahal orang miskin seperti kamu tidak usah mencobanya nanti kalau kamu suka dan mau lagi kamu tidak akan mampu membelinya”

“berapa harganya, aku mau membelinya?”

“pokoknya mahal,, permen ini hanya dijual di mitra plaza, junjung buih plaza, pokoknya yang plaza plaza tidak ada diwarung biasa”

Aku melihat dipermen itu bertuliskan “kopiko”

Aku menangis dan pulang kerumah, aku juga ingin makan permen itu, aku meminta pada mama supaya membelikan permen kopiko tapi mama tidak mengindahkan permintaanku , mama malah memarahiku. Akhirnya aku pergi mencari teman – temanku anto dan hamzah. Sambil menangis kuceritakan yang kualami pada temanku, aku mau permen kopiko. Anto dan hamzah adalah sahabatku mereka selalu membelaku dan membantuku.

“memangnya berapa harga permen kopiko itu La?” Tanya Anto

“aku tidak tahu, pokoknya kata Mona permen itu harganya sangat mahal”

“Tenang La, kita pasti bisa membeli permen kopiko itu. Besok kita memulung rongsokan uangnya kita pakai untuk membeli permen itu”

Keesokan harinya kami bertiga keliling kampung memulung  rongsokan, karena bertiga maka banyak yang kami dapatkan, uangnya lumayan kami berhasil mengumpulkan Rp 2.000 (setara Rp 20.000 kalau sekarang karena kala itu harga sebungkus mie instant  rp 250,-)

Setelah memiliki uang kami pun menyisir setiap warung mencari permen kopiko tapi sayangnya sampai jauh kami berjalan tidak satupun warung yang menjual permen kopiko, kamipun sampai kelelahan karena berjalan dari Pelambuan sampai Masjid Raya Sabilal Muhtadin

“sepertinya benar kata Mona, permennya tidak dijual diwarung biasa, hanya ada di plaza plaza”kataku

“kalau begitu kita jalan lurus lagi , diujung jalan ini ada simpang 4 kalau kita menyeberang lurus disana ada junjung buih plaza”ujar Anto

“aku sudah capek, tidak sanggup lagi berjalan”

“aku juga” sahut hamzah

Mataku kemudian tertuju pada acil penjual gorengan, dimeja dagangannya juga tersusun beberapa botol limun ,pasti segar rasanya panas terik begini minum limun dan makan gorengan

“Anto kita beli gorengan yuk, sama limun.aku lapar dan haus”

“ayoo,aku juga mau limun” ujar hamzah

“Tapi kalau uangnya dipakai buat beli gorengan dan limun, terus beli permen nya pakai apa?”

“besok saja kita pikirkan,sekarang gorengan dan limun dulu, ” aku memasang wajah memelas dan akhirnya Anto setuju karena tidak tega melihat aku dan hamzah yang sudah kelelahan. Kamipun akhirnya beristirahat sembari makan gorengan dan minum segelas limun, rasanya segerrr dan nikmat. (sekarang aku tidak pernah lagi menemukan ada orang yang berjualan limun ,,padahal dulu limun adalah minuman favoritku .aku suka yang warna hijau,adikku suka warna putih, kakakku yang coklat, mamaku suka yang warna merah)

Setelah penat kami hilang kami memutuskan untuk pulang karena dari Masjid Sabilal terdengar adzan ashar berkumandang, dan melanjutkan pencarian permen kopiko nya esok hari.

Hari menjelang maghrib baru sampai dirumah karena perjalanannya lumayan jauh ditempuh dengan berjalan kaki, setibanya dirumah kudapati mama sudah menungguku didepan pintu tapi dengan wajah yang penuh amarah yang aku tidak tahu apa sebabnya

“nah, akhirnya datang juga” kemudian tanpa babibu lagi mama langsung memukuliku seraya mengumpat

“ayoo ngaku, kamu kan yang mengambil uang Rp 10.000,-  didompet mama”

“tidak ma, aku tidak ada mengambil uang mama”

“jangan bohong, kemarin kamu minta belikan permen karena tidak mama turuti terus kamu mencuri uang mama kan?”

“sumpah ma, aku tidak mengambil uang mama”

Meski aku membela diri dan mengelak, tetap saja mama memukuliku  dengan membabi buta. Mama tidak percaya dengan ucapanku.

Padahal dirumah bukan hanya ada aku tapi ada kakakku  dan adikku ifit tapi setiap uang didompet mama hilang pasti akulah yang akan menjadi tertuduh dan memang bukan tanpa alasan mama mencurigaiku karena aku memang pernah mencuri uang didompet mama tapi aku mencuri ada alasannya, aku kesal dengan mamaku yang suka berbohong bila aku minta belikan buku atau apapun untuk keperluan sekolah mama selalu menjawab tidak punya uang tapi tak berselang lama setelah itu kulihat mama beli baju baru, beli sandal baru lah.makanya aku kesal selalu dibohongi. Meski aku hanya anak kecil tapi bagiku sangat tidak bijak bila orangtua suka membohongi anaknya dan sekarang ketika akupun kini sudah menjadi orangtua, aku ambil pelajaran dimasa lalu sehingga aku tidak pernah berbohong pada anak anakku , ku katakan sejujurnya

meski pahit.aku tidak ingin anak anakku belajar berbohong justru dariku, kutanamkan kejujuran pada anakku, kutekankan pada mereka betapa pun pahitnya kejujuran itu tetap lebih baik dari kebohongan.

Entah berapa banyak pukulan yang kuterima dari mama, aku hanya bisa menangis menahan sakit hingga akhirnya mamaku kelelahan sendiri dan berhenti memukuliku, aku pun akhirnya tertidur setelah lama menangis.

(Mamaku memang temperamental, dulu aku menganggap mamaku adalah mama paling kejam didunia, itulah sebabnya didalam hati aku selalu berniat apabila aku sudah besar dan sudah bekerja mampu hidup sendiri maka akan kutinggalkan rumah ini. Tapi kini setelah aku menjadi seorang mama, aku mulai mengerti ada apa dengan mamaku, mengapa beliau temperamental. Latar belakang pendidikan beliau yang tidak lulus SD , kawin usia dini 13 tahun, menjadi salah satu faktor penyebab ketidaksiapan mamaku menjadi orangtua meskipun tidak semua begitu karena toh niniku juga kawin muda umur 11 tahun dengan jumlah anak 14 orang tapi beliau tidak temperamental. Penyebab utama mamaku marah marah lebih banyak karena himpitan ekonomi, hanya seputar uang dan uang yang membuat rusuh beliau, kemiskinan membuat beliau mudah murka dan gundah gulana, disinilah pentingnya pendidikan agama bagi seseorang, pelajaran ikhlas dan selalu bersyukur yang belum didapatkan oleh mamaku. Tidak mengapa miskin jika pandai bersyukur, tidak mengapa lapar jika dekat dengan Allah, tidak mengapa dihina jika tidak lupa bertaqwa.banyak hikmah yang kudapat dari kekerasan yang kuterima dimasa kecil, bukan hanya kekerasan fisik tapi juga mental, mamaku tidak segan segan mengeluarkan sumpah serapah untuk anaknya dan lagi lagi kuambil pelajaran dari itu semua, tidak ada satu ucapan buruk pun yang kuucapkan dirumah, anak anakku hanya mendengar yang baik baik, hanya melihat yang baik baik, hingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun karena mereka tidak pernah mendapat pelajaran kata kata kasar ataupun kata kata kotor dirumah mereka. Mamaku memberiku banyak pelajaran berharga, meski aku banyak menerima kekerasan tapi aku mencintai beliau karena sejatinya seorang anak yang disakiti tidak akan dendam dan akan selalu memaafkan orangtua,dan seorang anak toh tidak bisa memilih dari Rahim mana ia ingin dilahirkan, bisa dari Rahim ibu yang pemarah, Rahim ibu yang kasar, atau Rahim ibu yang penyabar. Kewajiban seorang anak adalah berbhakti dan berbuat baik pada orangtua siapapun orangtuanya.  kini sebagai seorang mama aku menjadi berhati hati dalam ucapan maupun perbuatan agar tidak sampai  menyakiti anakku kalaupun itu tidak sengaja kulakukan maka dengan segera aku meminta maaf pada mereka agar luka dihati mereka tak lama menganga, agar amarah mereka bisa segera sirna, agar kecewa mereka tak terlalu meraja).

Rupanya aku tertidur sangat pulas karena kelelahan menangis, bahkan sampai subuh tiba yang artinya aku tidak makan malam

Akupun terbangun dengan kepala yang terasa berat, kakiku sakit kulihat memar  alhasil dari pukulan mamaku kemarin

“La, itu dimeja ada nasi kuning buat kamu”

(tumben , tidak biasanya aku dibelikan nasi kuning. Mungkin mama menyesali perbuatannya kemarin, mama mama biasanya memang begitu habis memarahi anaknya setelahnya pasti menyesal, sayangnya waktu tidak bisa diulang dan kesalahan terlanjur dilakukan). Akupun menghabiskan sarapanku dengan lahap, jarang jarang makan enak begini biasanya cuma pakai ikan asin atau tempe.

“La, ada anto dan hamzah diluar” kata mamaku

Akupun bergegas menemui mereka.

“ayo la kita mencari gatah”

 ( gatah adalah remahan karet mentah yang dibuang di sungai, limbah dari perusahaan karet, kebetulan di Pelambuan ada 2 pabrik pengolahan karet. Uhhh kebayang tidak bagaimana bau dari karet, mungkin ada yang pernah mencium mobil yang mengangkut karet dengan bau busuk yang semerbak dan membuat ingin muntah, tapi bagi kami warga Pelambuan sudah terbiasa dengan baunya, hahaha. Kami biasanya suka mengumpulkan gatah ini caranya dengan bercebur kekolam pembuangan limbah lalu kami kumpulkan gatah gatah itu dengan saringan plastik lalu kami jual ke pengepul namanya kai gatah, biasanya 1 kaleng khong guan gatah dihargai Rp 500,-)

“kakiku sakit banyak luka, kalau kena air nanti tambah perih”

“kenapa kakimu , La” anto kaget melihat kakiku

“Aku dipukul mama, dituduh mencuri uang mama gara gara kemarin aku minta dibelikan permen kopiko. Sudah lah aku tidak ingin makan permen itu lagi, gara gara ingin permen itu aku menderita”

“kalau begitu kami saja yang bercebur ke kolam, kamu tidak usah. aku tetap ingin membeli permen itu untukmu La, kasihan kamu” ujar hamzah

“iya La, kami saja yang yang bercebur”

Kami bertiga berangkat menuju kolam pembuangan limbah karet dan tanpa membuang waktu , anto dan hamzah langsung bercebur mengumpulkan gatah gatah dengan semangat dan beruntungnya hari ini gatahnya banyak, dalam waktu singkat kami sudah mengumpulkan 8 kaleng khong guan

“anto, hamzah, sudah cukup..ini sudah banyak.ayo kita jual ke kai gatah”

“tanggung La, bentar lagi kita genapkan sampai 10 kaleng ya, biar banyak uang yang kita dapat”

Anto dan hamzah terus mengumpulkan gatah tapi tidak lama kemudian terdengar teriakan hamzah “aduuh”

“kenapa hamzah?”

“kakiku terkena beling kaca”

Kamipun panik, anto dengan sekuat tenaga menarik tubuh hamzah ketepi, lalu aku membantu menariknya keatas dan benar saja kaki hamzah berdarah ada luka menganga, Hamzah meringis kesakitan. Anto pun bergegas meminta bantuan pada orang yang kebetulan lewat agar membawa hamzah ke puskesmas, untungnya tidak jauh dari pabrik karet itu ada puskesmas dan hamzah bisa mendapat pertolongan medis, dari luar aku mendengar hamzah berteriak kesakitan, perasaanku campur aduk jadi satu , rasa bersalah, kasihan, takut. Anto pulang untuk memberitahu mama hamzah sementara aku menunggu di Puskesmas, dan tak berselang lama mama hamzah tiba, beliau panik dan menangis mendatangi hamzah, setelah luka hamzah selesai dijahit dan diberi obat, hamzah dan ibunya diijinkan pulang sebelum pulang ibunya mendatangiku dan marah marah padaku “La, kamu jangan berteman dan main dengan hamzah lagi, ada ada saja yang dialami hamzah sejak berteman dengan kamu. Dasar anak nakal,, gara gara berteman dengan kamu hamzah jadi ikut ikutan nakal”

Aku tertunduk tidak berani menatap mama hamzah, aku menangis karena merasa bersalah.

Kopiko oh kopiko

Dan aku sudah bisa menebak setibanya dirumah pasti mama akan memukuliku lagi karena mendapat pengaduan dari mama hamzah, langkah kakiku gontai antara ingin pulang kerumah dan tidak, tapi kemana aku bisa berlari, tidak ada tempat lain yang bisa kutuju.aku hanyalah anak kecil yang di cap nakal, anak miskin yang selalu dihina. Bahkan mamaku pun tidak akan mendengar pembelaanku, aku nakal, aku bersalah dan aku dipukuli.

Seminggu berlalu aku hanya mengurung diri dirumah mencoba belajar menjadi anak pendiam, anak yang jinak, barangkali dengan begini aku bisa mendapat sedikit cinta kasih dari dari mama, barangkali ada pelukan hangat untukku dan usapan lembut dirambutku, hal hal yang tidak pernah kudapatkan dari mamaku. Berbeda dengan ifit adingku yang selalu disayang oleh mamaku, sebagai kakak aku selalu disuruh mengalah pada ifit, selalu aku yang bersalah kalau aku dan ifit bertengkar, selalu ifit yang dimenangkan kalau kami berebut sesuatu, sering terlintas dalam benakku apakah aku ini anak mama atau jangan jangan aku hanya anak pungut, kalau memang aku dan ifit sama sama anak mama kenapa perlakuan yang kudapat berbeda

“Ila, Ila” terdengar suara hamzah memanggilku,aku pun berlari menghampirinya

“kamu sudah sembuh hamzah, kakimu tidak sakit lagi”

“ya”

“maafkan aku ya hamzah, gara gara aku kamu jadi terluka”

“Tidak La, ini bukan salah mu. Oh iya, coba tebak aku bawa apa?” wajah hamzah senyum penuh makna

“apa?”

“Taarrrrraaa, permen kopiko”

“kamu dapat darimana?”kataku seraya tak percaya

“jadi kakakku kan satu sekolah dengan Mona dan ternyata permen kopiko ada dijual disekolahnya. Ini sebagai permintaan maafku ya La karena dulu itu ibuku memarahimu”

“ah, tidak apa apa.lagian ibumu tidak bersalah memang aku yang bersalah”

“kita kerumah anto yuk, kita makan  permennya disana. Terus kita datangi si Mona kita tunjukkan kalau kita juga bisa membeli permennya, belum puas hatiku kalau belum pamer ke Mona”ujar Hamzah antusias

Setibanya dirumah anto kami dapati anto seperti mau pergi dengan membawa clurit

“mau kemana to?”

“mau mencari rumput buat kambingku, kalian mau kemana?”

“ini hamzah bawa permen kopiko, kakaknya yang membelikan disekolahnya. Kita makan sama-sama yuk”

“wuiiih hebat.akhirnya dapat juga kita permen kopikonya..tadi didepan sana aku lihat ada Mona dan kawan kawan, kita kesana aja dulu kita perlihatkan bahwa kita bisa membeli permen kopiko setelah itu temani aku mencari rumput buat kambingku, nah ini ada bekal tahu petis dari ibuku sebagai upah mencari rumput”

Kamipun mendatangi Mona yang sedang bermain dengan teman temannya

“Mona , ini aku punya permen kopiko, ternyata tidak semahal yang kamu bilang, ini buktinya kami bisa membelinya”

Tapi dasar Mona lagi lagi dia pandai berkelit dan berkilah

“oh iya sekarang kopiko nya sudah dijual dibanyak warung,dibuatkan oleh perusahaan kopiko yang harganya murah supaya orang miskin seperti kalian bisa membelinya, tapi tetap saja beda dengan kopiko yang kubeli, rasanya lebih enak karena lebih banyak susunya, lebih banyak kopinya terus bahannya itu yang harganya kualitas dunia beda dengan yang kamu punya itu kopiko rasa murahan”

(hedeuuh mona mona , tepuk jidat saya)

Ketika Mona lagi sibuk dengan celotehan keangkuhannya, kulihat anto menyayat jok sepeda Mona dengan cluritnya, dan menumpahkan petis tahu di tas Mona yang tergantung disepedanya..rupanya anto kesal luar biasa. Aku , hamzah, anto saling baradu pandang dan tersenyum seraya berhitung 1, 2, 3 kaburrrr

Kamipun berlari sekuat tenaga dan sayup sayup terdengar teriakan Mona”mamaaaaaa, sepedaku”, “mammaaa tasku”

Kopiko oh kopiko

Rasanya manis, gurih dan ada pahit pahitnya layaknya kehidupan

Terimakasih sudah membaca cerpen ini, untuk yang lebih seru tunggu postingan Cerpen Alay berikutnya. Hanya ada di sini hobbyimul.com

Cerpen Alay”KOPIKO”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.